Bila ingin tahu harga satu tahun,
Bertanyalah pada siswa yang tidak naik kelas.
Bila ingin tahu harga satu bulan,
Bertanyalah pada Ibu yang bayinya lahir prematur.
Bila ingin tahu harga satu hari,
Bertanyalah pada pasien yang dinyatakn menderita tumor ganas.
Bila ingin tahu harga satu menit,
Bertanyalah pada seseorang yang ketinggalan kereta.
Bila ingin tahu harga satu detik,
Bertanyalah pada seseorang yang selamat dari kecelakaan.
Tik tok tik tok, sebelum bom akan meledak ! Pusat perbelanjaan para pengunjung tersebut mendadak ramai oleh suara kepanikan para pengunjung disertai tangisan anak kecil. Aparat keamanan langsung mengamankan para pengunjung keluar dari pusat perbelanjaan. Penjinak bom terlatih di datangkan untuk mengatasi bom yang siap meledak. Penghitung waktu mundur yang terpasang di badan langsung menunjukan angka 02.16. Para penjinak bom langsung bekerja, dengan penuh konsentrasi memototng satu persatu kabel. Penghitung waktu mundur berjalan mendekati angka 00.32. peluh sebesar biji jagung mulai menghiasi wajah para penjinak bom, tinggal dua kabel berwarna merah cerah dan biru tua. Para penjinak bom harus secepatnya memotong salah satu kabel, tetapi mereka diliputi kebimbangan, kabel yang mana ? salah satu dari mereka akhirnya memotong kabel berwarna merah dengan resiko terbunuh pada detik terakhir. Tepat pada waktu penghitung mundur menunjukkan angka 00.01. Sedetik kemudian mereka terdiam sebelum akhirnya bersorak karena telah berhasil menyelamatkan banyak nyawa termasuk diri mereka sendiri.
Waktumu, waktuku.
Sebagian besar dari kita pernah menemukan adegan diatas, entah membaca atau menonton film, disaat seperti itu, kita akan menyadari betapa pentingnya sesosok makhluk bernama waktu. Kegiatan apapun tidak terlempar dari sang waktu. Kita seolah-olah terikat erat dengannya. Ia yang membuat kita ada, ia pula yang akan perlahan-lahan mengambil usia kita. Waktu disadari atau tidak selalu mengambil bagian dalam setiap aktivitas kita.
Kadang terlintas di pikiran “andai waktu dapat diulang” setelah melakukan kesalahan, berharap ia kembali agar kita dapat memperbaikinya. Atau kita berharap “andai waktu berhenti saja” saat sedang melewati masa bahagia. Waktu membawa kita ke suasana yang beragam. Seolah-olah ia menggamit tangan kita dan mengajak berjalan-jalan. Ia membuat perubahan besar dalam diam, mengubah bola besar yang panas menjadi tempat yang bisa dihuni dengan nyaman oleh manusia.
Suatu waktu saya melihat bayi merah yang baru dilahirkan, saya bertanya-tanya berapa lama waktu yang diperlukannya hingga dapat menghidupi dirinya sendiri dan menghidupi dirinya sendiri ? 20 tahun, 30 tahun atau lebih ? tapi saat kembali melihat pipinya yang montok kemerahan, saya jadi tidak tega membayangkan dia akan mengalami kehidupan didunia yang tidak mudah, namun waktu memberi kesempatan berkali-kali pada kita untuk belajar menjadi dewasa dan mengenal dunia. Waktu yang memperkenalkan kita pada rasa penyesalan. Dengan uniknya, waktu hanya meletakkan rasa menyesal dibagian akhir. Tapi dengan menyesal, mekanisme otak kita akan mengingat rasa tidak nyaman tersebut agar tidak terulang.
Bagi manusia yang telah kehilangan semua harapan hidupnya. Waktu seolah pembunuh berdarah dingin, mereka membencinya karena mereka pikir waktulah yang mengambil semua hal berharga dalam hidup mereka. Hingga kadang-kadang mereka melawan waktu dengan cara meninggalkan waktu itu sendiri. Bunuh diri, hal yang sering dilakukan untuk meninggalkan semua penderitaan, karena dengan kematian waktu merasa berhenti.
Bersahabat dengan waktu
Menghargai waktu dengan jalan menggunakan kesempatan yang diberikan sebaik-baiknya adalah cara agar kita dan dia dapat berjalan seirama. Bosan yang sering hadir disaat-saat tertentu kadang cukup menyebalkan. Bosan dengan segala aktivitas yang monoton dan hidup yang datar sebenarnya termasuk mekanisme waktu agar kita merasakan ketidaknyamanan hingga rasa lain bermakna. Kenapa bosan dengan hari ini bila kita bahkan tidak bisa menjamin waktu yang akan kita miliki besok ? biarlah ia dengan caranya membawa kita kesedihan, kebahagiaan, cinta, marah dan benci. Karena Allah SWT, menciptakannnya bukan untuk menyengsarakan melainkan agar kita dapat terus belajar, terus berusaha menggunakan dia sebaik-baiknya mencari celahnya diantara hal yang paling jauh adalah kemarin, yang paling dekat adalah kematian, yang paling rahasia adalah besok, waktu yang menggenggamnnya.
“Demi masa, sesungguhnya manusia benar benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasihati supaya menaati kesabaran” (Q.S Al-Ashr:103/1-3)