Salju

Senin, 30 Januari 2012

Sekelumit Kecil Cerita dari Jalanan


“Dia tidak ingin hidup seperti ini, namun apa daya takdirnya begini”.
“Dia tidak ingin mengemis, karena dia tahu dia masih mampu mengais”.
Mungkin kalimat di atas terasa begitu kasar maknanya, namun itulah kenyataan kondisi anak jalanan. Hampir setiap hari terlihat anak jalanan mengamen di jalan-jalan, dari yang baik-baik meminta duit dari para pendengarnya hingga yang dengan kasar dan meminta duit sambil memegang sebuah silet tajam. Betapa beratnya kehidupan seorang anak jalanan, mereka sudah harus merasakan kerasnya hidup. Bukan hanya karena polusi udara dan resiko tertabrak angkot saja, tapi jalanan mempunyai aturan sendiri yang sangat keras. Bagi kita, mungkin sangat tidak manusiawi. Tapi itulah jalanan. Mereka tidak sekolah, tidur di kolong-kolong jembatan, mencari uang di jalanan, dan makan apa adanya. Diusia yang sangat dini, mereka berusaha mencari nafkah sendiri agar bisa tetap bertahan dari kerasnya kehidupan yang mereka hadapi, hanya satu yang mereka takutkan yaitu Satpol PP, Satpol PP yang lebih menakutkan dari Kapolri yang berpangkat Jenderal sekalipun.
Sekilas jalanan menjadi sebuah alternatif pembebasan bagi mereka dari belenggu kehidupan. Sekolah dan kehidupan normal ditinggalkan untuk menikmati alam kebebasan yang minim rambu-rambu larangan. Jalanan seakan fatamorgana yang sangat menjanjikan bagi pembebasan diri.
Ternyata bayangan indah tentang jalanan sangat bertolak belakang dengan realitas yang sebenarnya. Jalanan memiliki aturan hidup yang jauh lebih keras dibandingkan kehidupan di rumah.
· Apakah kamu tahu, mereka harus bangun jam berapa ? supaya mereka dapat kardus dan botol air mineral bekas yang banyak, biar tidak rebutan dengan yang lain.
· Apakah kamu tahu, kalau mereka pernah tidak makan nasi selama tiga hari ?
· Apakah kamu tahu, kalau mereka sampai sekarang tidak punya akte lahir ? katanya bikin Akte lahir sekarang ini “murah”nya udah tidak ketulungan.
· Apakah kamu tahu, kalau ayah mereka pernah berkelahi dengan petugas Tramtib hanya karena ingin mempertahankan gerobaknya ?
Mungkin bila kita melihat anak jalanan yang selalu ada dibenak kita adalah tubuhnya yang kotor menandakan betapa bersahabatnya dia dengan debu jalanan kota yang tiada dua. Memang semua itu benar tapi ada satu hal yang lebih berharga dibalik semua itu. Anak jalanan mempunyai suatu keistimewaan yang tidak kita miliki. Apa keistimewaannya ? tiap hari mereka mampu melawan kekejaman kehidupan hanya untuk satu tujuan yaitu mencari uang untuk hidup satu hari, walaupun yang di dapat sedikit namun mereka tetap bersyukur dan tak mengenal kata “putus asa” untuk kembali berjuang pada hari-hari selanjutnya. Namun bagaimana dengan kita ? kita tidak tiap hari merasakan kekejaman dunia, hanya pada waktu tertentu saja namun lebih parahnya kita selalu gampang berputus asa bila mengalami kegagalan dan yang lebih parahnya lagi kita tidak pernah mensyukuri apa yang kita punya saat ini.
Kadang aku berfikir, aku bisa hidup enak seperti sekarang, aku bisa tertawa tanpa penderitaan sedangkan mereka anak jalanan. Rasanya sedih melihat anak jalanan memegang gitar kecil, tanpa beralaskan kaki serta keringat yang membasahi tubuhnya. Mungkin bagiku nyanyiannya bukanlah sebuah lagu, namun lebih sebagai rintihan seorang anak jalanan yang tabah menghadapi keadaannya. Aku tidak menyalahkan mereka, aku tidak menyalahkan Pemerintah, dan tidak pula keluarga mereka atas apa yang membuat mereka seperti itu. Oh…apa yang bisa aku lakukan ? dalam hatiku aku tetap berdoa atas keselamatannya hingga semoga masa depannya dapat lebih baik dari sekarang yang mereka jalani.
“Sudah seharusnya kita bersyukur bisa hidup lebih baik, lebih nyaman dari mereka. Janganlah sombong dengan harta yang kita punya, kita juga harus membantu mereka yang sedang kesusahan”.
Terima kasih anak jalanan, kalian telah mengajariku sebuah nilai kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar